Halaman

Jumat, 10 Februari 2012

Bromo Bukan Hanya Lautan Pasir...



Pegunungan Tengger dan Gunung Bromo tak hanya terkenal keindahan lanskapnya. Budaya orang Tengger yang menghuni tempat itu sejak lama menjadi ”wisata” yang hidup. Salah satunya ritual Karo.
Pertengahan Oktober lalu, rangkaian ritual upacara Karo atau upacara pawedalan jagad yang digelar setahun sekali itu dimulai. Gamelan ketiplung mengiringi keberangkatan upacara penyucian pusaka tinggalan leluhur Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, menuju tempat yang dikeramatkan warga.

Dukun Ngadisari, Sutomo, memimpin sesepuh adat dan perangkat desa berarak melewati gang-gang kampung. Pusaka keris, tombak, bahkan uang kuno disucikan dalam ritual mandi kembang. Anak-anak hingga orang dewasa dengan pakaian terbaiknya larut dalam prosesi.

Upacara Karo merupakan persembahan korban bagi arwah leluhur, baik leluhur keluarga dekat maupun leluhur pendiri Tengger. Para leluhur yang sudah didewatakan ini bersemayam di Kawah Bromo. Ritual utama adalah upacara tekaning ping pitu, yaitu memanggil arwah leluhur agar pulang ke rumah. Upacara ini bisa berlangsung dua pekan.

Namun, hari raya Karo tak hanya untuk para leluhur. ”Upacara itu pada dasarnya upacara pawedalan jagad, kami memperingati lahirnya jagat. Disebut upacara Karo karena upacara ini dilaksanakan pada bulan Karo menurut kalender Tengger,” kata Sutomo.
Bagi masyarakat Tengger, alam sekitar, termasuk Gunung Bromo, penting diperhatikan. Sikap baik terhadap alam merupakan bagian dari kepercayaan mereka.

Ada tiga hal yang diperhatikan. ”Pertama pasti Sang Hyang Widi bersama manifestasinya, yaitu para dewa dan batara. Kedua leluhur. Ketiga leluhur ngaluhur atau leluhur Tengger,” katanya.

Di lereng Tengger itulah alam semesta diperingati berbarengan dengan penghormatan kepada leluhur. Mereka meyakini upacara itu juga terkait penghormatan kepada gunung, seperti halnya Kasada yang merupakan upacara mempersembahkan korban secara langsung kepada gunung.

Kurang dikenal
Walau Karo tak sebesar Kasada, upacara ini disebut-sebut sangat penting. Sebab, menjadi indikator apakah seseorang masih menjadi orang Tengger atau tidak. Namun, upacara ini masih asing di telinga wisatawan.
Bagi warga Tengger, Karo merupakan hari raya yang dinanti. Kemeriahannya mirip Lebaran bagi umat Islam. Saat Karo-lah pintu warga terbuka untuk siapa saja, saling mengunjungi dan menjamu. Tak hanya menjamu tetangga dan sanak saudara, tetapi juga menjamu arwah leluhur yang dipanggil pulang.

”Pada hari Karo kami berkeliling makan di semua rumah warga. Ini tradisi lama. Para tamu yang lewat pun kami tawari mampir. Bukan basa-basi, itu sudah adatnya,” kata Moyo, warga Jetak.

Perkataan Moyo bukan isapan jempol. Keramahan warga membuat wisatawan selalu ingin datang menyaksikan Karo. Namun, konsep wisata budaya, yang mengandalkan tradisi dan keramahan warga, ini tak bersentuhan langsung dengan industri wisata. Berbeda dengan desa-desa lebih di atas gunung yang terlibat langsung dalam industri wisata pesona alam Bromo yang lebih komersial, yang semua dihitung dengan rupiah.

Andalkan alam
Budaya dan ritual Tengger sendiri masih kalah pamor dibandingkan di Bali. Seorang wisatawan muda asal Belanda, Ghonick, mengatakan ke Bromo karena ingin melihat keindahan matahari terbit dan pemandangan pegunungan yang indah.

Berangkat dari Desa Ngadisari, napas Ghonick tersengal- sengal saat tiba di puncak Penanjakan II di Pegunungan Tengger. Penuh semangat, ia mengabadikan matahari terbit di atas kaldera Bromo.

Selain keindahan alam, Ghonick juga mengaku tak banyak tahu informasi lain tentang Bromo. Berbagai adat dan ritual masyarakat Tengger tak ada dalam referensinya. Tak seperti nama Bali yang di benaknya merupakan gabungan antara atraksi budaya dan pesona alam.

Pelaku industri wisata Jawa Timur, Haryono Gondosoewito, menuturkan, sejauh ini industri wisata lebih menjual pesona alam Bromo, seperti kaldera Bromo dan keindahan matahari terbit di Puncak Penanjakan. Brosur-brosur wisata bahkan menyebut matahari terbit di Bromo sebagai salah satu dari tiga momen matahari terbit terindah di dunia. Dari Penanjakan itu, wisatawan bisa melihat puncak Gunung Batur, Kawah Gunung Bromo, dan puncak Gunung Semeru di kejauhan.

Lanskap Tengger-Bromo memang memanjakan mata dengan beragam keindahan. Begitu mobil gardan ganda memasuki kawasan Bromo, perbukitan berselimut ilalang hijau segera menyegarkan mata. Gelombang perbukitan ”berkarpet” hijau itu terkenal sebagai
Bukit Teletubbies. Mengemudi lebih jauh terhampar lautan pasir. Embusan angin gunung mengukir pola unik di atas pasir. Dari lautan pasir ini, ada jalur pendakian ke kawah Bromo.

Berbagai kendala
Pelaku wisata kesulitan mengangkat potensi lain di Bromo, termasuk budaya, karena menilai pasarnya lemah. Memang ada turis yang tertarik menyelami budaya, yang biasanya berasal dari Eropa. Namun, jumlahnya tak signifikan.

Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan kawasan Bromo juga dinilai kurang maksimal karena ada tiga kabupaten yang berkepentingan terhadap kawasan wisata itu. ”Membuat satu kebijakan saja jadi sulit karena harus atas persetujuan tiga kabupaten,” kata Haryono, yang juga mantan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita).

Selain itu, warga sepertinya juga belum siap menerima wisatawan. Tarif penginapan, misalnya, sering ditawarkan tanpa standar. Anna dan Ben, turis dari Jerman, misalnya, mengaku merasa tertipu. Mereka membayar hotel lebih mahal dibandingkan tarif normal. ”Kami malam sampai di Bromo, jadi yang penting dapat kamar. Ternyata setelah kami bandingkan harganya, kami membayar lebih mahal,” ujar Anna.

Pengunjung dilarang bermobil ke area wisata. Pilihannya, jalan kaki atau menyewa kuda, sepeda motor, atau jip.

Untuk membujuk wisatawan memakai jasanya, operator alat transportasi kerap menyampaikan informasi menyesatkan. Hal itu misalnya mengatakan, jarak ke suatu lokasi sangat jauh dan sulit dijangkau kendaraan pribadi sehingga perlu menyewa kendaraan. Terkadang dengan tarif mahal. Harga sewa jip selama 30 menit perjalanan pulang-pergi Rp 300.000.

Bagaimanapun keadaannya, Bromo magnet wisata Jawa Timur. Haryono mengatakan, dalam ajang tahunan Majapahit Travel Fair, pelaku wisata Jatim berupaya mengenalkan destinasi baru kepada biro wisata dari berbagai negara. Namun, agen perjalanan dari berbagai negara selalu meminta ke Bromo.

Sayangnya, andalan di Bromo hanya pemandangan. Keramahan dan keunikan budaya luput dari perhatian.

0 comments:

Reply To This Comment

Posting Komentar